Mahfud Ikhwan

Kambing dan Hujan

Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatas putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.
Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.
[Mizan, Bentang Pustaka, Cinta, Budaya, Beda, Indonesia]
362 halaman cetak
Pemilik hak cipta
Mizan

Kesan

    lelimembagikan kesan2 tahun yang lalu

    Gilasii dari lama pengen baca novel ini, dan begitu kesampean baca, ceritanya benar benar sesuai ekspektasi. Konflik horisontal yang dihadirkan begitu renyah dan gaya penceritaan yang sangat menghibur, membuat apa yang harusnya terkesan berat tetap dapat diterima dengan mudah. Suka banget.

    Bentang Pustakamembagikan kesan6 tahun yang lalu
    🚀Sangat menarik

    Novel yang indah, renyah, dan berisi.

    Nadia Setiyabudimembagikan kesan6 bulan yang lalu
    👍Layak dibaca
    🔮Kearifan Tersembunyi
    💡Banyak pelajaran
    🎯Bermanfaat
    💞Romantis
    🌴Buku Bekal Liburan
    🚀Sangat menarik
    😄Lucu
    💧Menyentuh

    kisah is dan moek yang indah.

Kutipan

    Yulaika Widhiastutimembuat kutipan6 tahun yang lalu
    “Tidak. Jangan, Nak. Jangan membongkar barang lama jika debunya membuat banyak orang terbatuk.”
    “Kita akan membersihkan debunya, Pak. Siapa tahu kita menemukan barang berharga. Lagi pula, batuk tidaklah membunuh.”
    Fitri Amaliamembuat kutipan2 bulan yang lalu
    “Kamu tahu, kan, luka masa lalu itu sulit disembuhkan?”

    “Dan, aku tak mau kita bikin luka baru.”

    “Terus, kita harus bagaimana?”

    “Terus mencoba, sebisanya.”

    “Kamu masih bisa?”

    “Tidak kalau tanpa kamu.”
    Nadia Setiyabudimembuat kutipan6 bulan yang lalu
    Tangan si bapak memijit pundak anak gadisnya. “Marah ya marah, tapi mbok jangan merajuk. Terus nggak makan.” Tangannya pindah ke telinga, menjewernya pelan. “Sudah minta kawin kok kayak anak kecil saja.”

Di rak buku

    Nissa
    Buku gratis
    • 55
    • 1.1K
    opanmustafa
    Rak Novel
    • 10
    • 309
    Maudi Utami
    Musim Hujan
    • 25
    • 225
    thebookishome
    Timbuctoo
    • 229
    • 24
    Marina Zala
    Indonesia
    • 41
    • 10
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)