Multatuli

Max Havelaar

Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan asisten Lebak, Banten, abad 19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etik dengan mendidik kaum pribumi elit, sebagai usaha ?membayar? utang mereka pada pribumi. Tragis, lucu dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai buku yang ?membunuh? kolonialisme. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik nurani. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam berbagai film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca hingga kini.
[Mizan, Qanita, Klasik, Kolonial, Dunia, Belanda, Indonesia]
416 halaman cetak
Pemilik hak cipta
Mizan
Sudahkah Anda membacanya? Bagaimanakah menurut Anda?
👍👎

Kesan

    Risty Habibiemembagikan kesan2 tahun yang lalu
    👍Layak dibaca
    💡Banyak pelajaran
    🎯Bermanfaat
    🚀Sangat menarik

    Buku ini bakal membawa kita seolah kembali ke masa lalu waktu zaman penjajahan. Mengingat pada zaman itu bangsa kita banyak menderita di tanah sendiri. Yang paling menarik, Douwes Dekker ( Multatuli) memperkenalkan dirinya secara berproses dalam buku ini. Perlahan dia membuka diri, layaknya bunga yg tunbuh kemudian mekar. Vanyak sejarah yang terkandung dalam buku ini. Gak heran kakau buku ini selalu di kenang dan tak lekang oleh waktu.

    syifahikmembagikan kesan8 bulan yang lalu
    👍Layak dibaca

    Bacanya sambil denger lagu Saija-The trees and the wild🎶

    anti tusitmembagikan kesan2 tahun yang lalu
    👍Layak dibaca
    💡Banyak pelajaran
    🚀Sangat menarik

    Membuka sisi lain tentang bagaimana sebenarnya dibalik apa yang kita baca di buku-buku sejarah di sekolah. Seperti yang telah saya perkirakan, banyak sisi-sisi lain yang seharusnya kita ketahui untuk menjaga keseimbangan info tidak hanya dari satu pihak.

Kutipan

    Tata Mongilongmembuat kutipan6 tahun yang lalu
    Cinta ibu tak kunjung padam!
    Di sanalah kau setia mengawasiku
    Bocah kecilmu yang tak berdaya,
    Menuntun langkah pertamaku,
    Dengan kata dan tatapan lembut.
    Tapi takdir meretas ikatan
    Yang menyatukan kita;
    Dan kini di tanah asing
    Hanya Tuhan bersamaku!
    Cintamu, Bunda tersayang,
    Aprida Sondangmembuat kutipan5 tahun yang lalu
    Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan
    Risty Habibiemembuat kutipan2 tahun yang lalu
    Alam adalah gerakan. Tumbuh, lapar, berpikir, merasakan, semuanya ini adalah contoh gerakan …. Diam adalah mati. Tanpa gerakan, tidak ada kedukaan, tidak ada kegembiraan, tidak ada emosi.

Di rak buku

fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)