Agus Noor

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia

Eksplorasi Agus Noor dalam bercerita membuat setiap kisah yang ditulisnya menjadi penuh pukau. Cinta dan perselingkuhan, sensualitas dan kepedihan, sampai memori kekejaman politik dan religiositas, terasa subtil dalam bahasanya yang puitik dan sering kali mengejutkan. [Mizan, Bentang, Pustaka, Inspiration, Novel, Indonesia]
128 halaman cetak
Pemilik hak cipta
Mizan
Sudahkah Anda membacanya? Bagaimanakah menurut Anda?
👍👎

Kesan

    Amellya Nofemimembagikan kesan6 tahun yang lalu
    🚀Sangat menarik

    Keren. Kritik sosial dan moralnya sangat jelas. Tertata rapi dengan pilihan kata yang 'gag menjelimet'

    Deliz Noreenmembagikan kesan3 tahun yang lalu
    🔮Kearifan Tersembunyi
    🚀Sangat menarik

    Baca ini kawan! Saya sudah membacanya 2 kali. Cerita ini banyak menyinggung realita kehidupan sekarang, ada kesan thrill. Teka teki dan boom! Diakhir cerita.

    Smembagikan kesan6 tahun yang lalu
    🔮Kearifan Tersembunyi

    Muram. Getir. Satir. Namun, nikmat.

Kutipan

    Ppopot Lilomembuat kutipan6 tahun yang lalu
    TAKDIR memang selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan.
    Smembuat kutipan6 tahun yang lalu
    Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan juga.
    Candra Galih Wijayamembuat kutipan2 tahun yang lalu
    Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Keajaiban tersendiri. Setiap kota terdiri dari gedung-gedung, sungai-sungai, kabut dan cahaya, serta jiwa para penghuninya; yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban, runtuh tertimbun waktu. Semua itu terjadi bukan karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur, tetapi lebih karena kota itu tak lagi hidup dalam jiwa penghuninya. Kami tak ingin kota kami lenyap, meski sebagian demi sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Karena itulah, kami selalu membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Kami mendirikan kembali rumah-rumah, jembatan, sekolah, mercusuar dan menara, rumah sakit-rumah sakit, menanam kembali pohon-pohon, hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami yang hancur. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan, seperti burung phoenix yang hidup kembali dari timbunan abu tubuhnya

Di rak buku

    Bookmate
    Buku Minggu Ini
    • 29
    • 36.7K
    Maudi Utami
    Musim Hujan
    • 25
    • 225
    b3935877365
    Bokbok ku
    • 21
    • 79
    yulifarmasi8
    Novel
    • 71
    • 28
    thebookishome
    Timbuctoo
    • 229
    • 26
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)