Gus Awy

Tentang Perempuan: Dari Bohong pada Suami hingga Sepak Bola Wanita. Tentang Perempuan – Islam Q & A

Mungkinkah menikah tanpa cinta? Siapakah yang berhak memimpin rumah tangga? Bolehkah berbohong pada suami? Bagaimana duduk perkara hadis yang mengatakan bahwa wanita itu kurang akal? Seperti apa seks dalam Islam? Sejak menjadi ustadz bagi santriwati hingga menimba ilmu selama 10 tahun di Rushaifah, Makkah, Gus Awy-panggilan akrab penulis buku ini-sudah akrab dengan masalah-masalah Muslimah. Lalu, ketika ia rutin mem-posting jawaban dan penjelasan atas masalah-masalah tersebut (yang diadaptasi bebas dari sebuah kitab karya guru besarnya, Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky, berjudul Adabul Islâm fî Nizhâmil Usrah), sambutan datang mengalir …. Gus Awy dalam buku ini menyajikan jawaban dalam versinya yang lebih matang. “Jiwa” dari seluruh jawaban adalah siraman bagi kaum perempuan untuk lebih memiliki karakter excellent secara berjenjang: dari menjadi gadis yang terhormat dan menjaga kehormatannya, istri salehah, ibu pendidik, sampai nenek yang kelak diagungkan dan dibanggakan anak cucunya.
[Mizan, Noura Books, Tanya Jawab, Islam, Hidup, Keluarga, Indonesia]
200 halaman cetak
Pemilik hak cipta
Mizan
Sudahkah Anda membacanya? Bagaimanakah menurut Anda?
👍👎

Kesan

    randibayu94membagikan kesan2 tahun yang lalu

    Layak dibaca

    Arsy Ameliamembagikan kesan4 tahun yang lalu
    👍Layak dibaca
    🔮Kearifan Tersembunyi
    💡Banyak pelajaran
    🎯Bermanfaat

    Reyhan Nayudamembagikan kesan2 tahun yang lalu
    💧Menyentuh

Kutipan

    Arsy Ameliamembuat kutipan4 tahun yang lalu
    Lebih lanjut, dalam catatan itu—dan sepertinya R.A. Kartinimenindaklanjuti kri tikannya; dan kisah ini mungkin tidak banyak kita dengar—beliau menulis sepucuk surat kepada Kiai Sholeh Darat, Semarang. Beliau meminta Kiai Sholeh Darat secara khusus, untuk menerjemahkan dan menafsirkan Surah Al-Fatihah. Itulah surah terpenting yang kita baca, minimal 17 kali dalam sehari.
    Lihatlah, bagaimana antusiasme dan kehausan R.A. Kartini untuk
    Della Saritamembuat kutipan2 tahun yang lalu
    Tak ada hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik. Berjilbab adalah murni perintah agama pada kaum Muslimah, tanpa melihat apakah moralnya baik atau buruk. Jadi, selama dia Muslimah, berjilbab adalah kewajiban. Tentu saja, ada Muslimah yang memilih tak berjilbab, tetapi itu adalah pilihan dia. Setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Risiko tidak mengikuti instruksi syariat, tentu saja sanksi, dan sanksi syariat adalah dosa
    Arsy Ameliamembuat kutipan4 tahun yang lalu
    ingin menciptakan sebuah masyarakat yang dinamis, berkualitas, hal pertama yang harus diperhatikan adalah pendidikan wanita, sekaligus mendidik mereka, bagaimana me-manage sebuah rumah tangga sesuai dengan tatanan syariat dan tatanan kehidupan. Sebuah aksioma mengatakan, “An-nisâ’ ‘imâdul bilâd (wanita adalah tiang penyangga Negara).” Wallahu a’lam.[]

Di rak buku

    Rawan Ballaga
    RAWAN BALLAGA
    • 115
    • 5
    Rizky D'silvers
    Pustaka pribadi
    • 17
    sundaridesi29
    Me
    • 12
    Lusy Bata
    Bacaan
    • 9
    Purwanto Aza
    My buku
    • 6
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)