Buku
Goenawan Mohamad

Marxisme Seni Pembebasan

Kesenian, terutama sejak awal abad ke-20, adalah bagian dari ikhtiar emansipasi yang makin disadari. Pelbagai pemikiran, baik di Indonesia maupun di luarnya, merumuskannya dengan pelbagai cara. Dari semuanya, yang paling tampil ke depan adalah Marxisme. Dalam sejarah, perdebatan dan perselisihan tentang masalah kesenian ini berlangsung sangat intens di antara kaum Marxis sendiri–misalnya antara dramawan komunis Bloch dan teoretikus “realisme sosialis” Lukács, antara “realisme sosialis” di bawah Stalin dan gerakan seniman avant-garde setelah Revolusi Oktober 1917. Ini memperlihatkan bahwa tak ada satu tafsir yang berlaku umum untuk Marxisme, tak ada Marxisme an sich–ia selalu ditafsirkan–dan betapa pentingnya masalah kesenian dan emansipasi ini. Tak kurang dari itu, debat itu pada gilirannya bermanfaat bagi perkembangan ide tentang kesenian, pembebasan, dan ideologi. Di Indonesia, masalah “Manikebu” di tahun 1963 dan seterusnya adalah contoh yang sering disebut.
316 halaman cetak

Kesan

    👍
    👎
    💧
    🐼
    💤
    💩
    💀
    🙈
    🔮
    💡
    🎯
    💞
    🌴
    🚀
    😄

    Bagaimana pendapat Anda tentang buku ini?

    Masuk atau Daftar

Kutipan

    Qouri Irwansyahmembuat kutipan3 tahun yang lalu
    Pandangan Trisno Sumardjo juga tak jauh dari sana. Ia menekan­kan pentingnya “isi batin”. “Isi batin” yang “tidak dapat dipalsukan” itu baginya merupakan “inti bagi sebuah karya”.
    Qouri Irwansyahmembuat kutipan3 tahun yang lalu
    pendapat Jassin yang termuat dalam Gema Tanah Air itu.
    Qouri Irwansyahmembuat kutipan3 tahun yang lalu
    “Karena kelas proletariat adalah kelas yang paling bebas dari setiap kepalsuan serta kemunafikan.”

Di rak buku

    Rawan Ballaga
    RAWAN BALLAGA
    • 115
    • 5
    Meed Meed
    Yohama
    • 8
    icha maharani
    Indo
    • 5
    Kristina Panjaitan
    marxisme
    • 1
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)