Dari Gestapu ke Reformasi, Salim Said
Buku
Salim Said

Dari Gestapu ke Reformasi

Baca
Bagus Riadi
Bagus Riadimembuat kutipantahun lalu
Seandainya Sukarno cepat mengutuk dan membubarkan PKI, ada kemungkinan pembantaian dan pembersihan tidak sedramatis dan setragis seperti yang kemudian terjadi.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Kelompok yang dipakai Murtopo untuk operasinya itu, antara lain, adalah para mantan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang menurut para perwira Kodam Siliwangi sudah lama mereka “jinakkan”. Orang-orang Siliwangi itu amat kesal kepada kegiatan Murtopo “membangkitkan” kembali para mantan DI/TII tersebut. “Komando Jihad” itu menurut Panglima Siliwangi waktu itu, Mayor Jenderal TNI Himawan Sutanto, adalah “jadi-jadian”. Tapi, para perwira di Bandung tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi pembantu dekat Presiden tersebut.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Memanfaatkan para mantan DI/TII itu adalah taktik Murtopo yang mula-mula dipraktikkannya ketika menghadapi PKI. Dia, antara lain, menggunakan para mantan DI/TII itu untuk menghadapi orang-orang Komunis setelah Gestapu. Jauh sebelumnya, di Sumatra Barat, sebagai perwira intel dalam pasukan yang beroperasi menumpas PRRI, Ali Murtopo melakukan hal yang sebaliknya. Di Sumatra Barat, Murtopo menggunakan anggota-anggota Pemuda Rakyat (PR), organisasi pemuda Komunis, dalam mengejar tokoh-tokoh PRRI. Menurut sebuah sumber di Padang, Kolonel Dahlan Jambek, seorang tokoh PRRI dan mantan pejabat tinggi di Markas Besar Angkatan Darat, tewas di tangan PR ketika dia dalam perjalanan menyerahkan diri ke pos pasukan TNI.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Soeharto selalu mengatakan dia Islam, tapi dia Islam hakekat, bukan Islam syariat. Bersama Sudjono Humardani, Romo Giat, Romo Misran, Romo Budi, semua mereka itu orang kebatinan, penganut Islam hakekat, bukan Islam syariat,” kata Harry.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Pada masa awal kekuasaan Soeharto, setelah membereskan PKI, para pengikut Sukarno dan para tokoh pelopor Orde Baru (Kemal Idris, H.R. Dharsono, dan Sarwo Edhie) dan kekuatan Islam politik menjadi target Soeharto berikutnya. Yang mula-mula menjadi operator melaksanakan kebijakan anti-Islam Soeharto adalah Ali Murtopo. Waktu itu Moerdani masih menjabat Konsul Jenderal di Kuala Lumpur sebelum kemudian pindah ke Seoul. Dalam rangka itulah, kemudian munculnya cerita mengenai Komando Jihad yang diciptakan untuk kemudian dihancurkan. Ini adalah salah satu cara Ali Murtopo “meneror” kekuatan politik Islam, terutama menjelang Pemilihan Umum 1971. Waktu itu kubu Soeharto masih belum yakin pada kesanggupan Golkar—kendaraan politik tentara—mengumpulkan suara secara signifikan dalam pemilihan umum pertama Orde Baru.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Seorang teman dekat Moerdani bercerita bagaimana Benny menjaga Habibie layaknya aparat sekuriti Amerika menjaga Werner Von Braun, ahli roket Jerman yang dibawa Amerika dari Jerman setelah Perang Dunia II berakhir.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Moerdani sebagai minoritas ganda, sadar betul tentang kerawanan dan “sense of survival” minoritas vis a vis mayoritas. LBM berpandangan, kalau ingin mencerdaskan umat Islam, cerdaskan seluruh rakyat Indonesia yang lebih 80% beragama Islam. Jadi, kehadiran ICMI dipandangnya lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Benny memang menganggap rendah politisi sipil sejak Sukarno menaikkan bendera putih di depan Gedung Negara Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Dalam hal ini, Benny sebenarnya tidak sendiri. Hampir semua perwira TNI generasi pertama menganggap rendah para politisi sipil. Orang yang memberi landasan doktrin kepada sikap ini adalah Nasution. “Jalan Tengah” dan doktrin “Dwifungsi” adalah pernyataan paling jelas dari ketidakpercayaan—kalau bukan kebencian mendasar—militer Indonesia generasi pertama kepada kaum sipil.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Benny mengenal Soeharto dari dekat ketika keduanya bertugas dalam Operasi Trikora. Soeharto Panglima Mandala dan Moerdani Komandan Operasi Naga yang diterjunkan di belantara Irian Barat. Kelak ketika Soeharto sudah menjadi Presiden sementara Benny masih di Kuala Lumpur dan kemudian Seoul, setiap Kepala Negara ke luar negeri Benny selalu didatangkan khusus dan ditugasi sebagai konsultan pengamanan. Ini berarti Soeharto sejak lama sudah mengenal dan mengakui keandalan Moerdani sebagai security officer.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Mengenai perlakuan buruk terhadap perwira-perwira yang beragama Islam, politikus partai Islam, Hartono Mardjono, pernah dikutip oleh koran Republika (terbitan 3 Januari 1997) sebagai mengatakan bahwa rekrutmen untuk menjadi perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap mereka yang beragama Islam. Menurut informasi Hartono Mardjono, kalau direkrut 20 orang, 16 di antaranya adalah perwira beragama Kristen atau Katolik, dua dari Islam, satu Hindu, dan satunya lagi Buddha.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
ni juga mengingatkan saya pada Islam ateis di Uni Soviet dahulu. Geider Aliyev, anggota Politbiro yang berasal dari Asia Tengah adalah contoh Islam ateis. Artinya secara budaya Islam, tapi tidak menjalankan syariat Islam, dan sebagai Komunis bahkan kemungkinan besar juga tidak percaya adanya Tuhan.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Masih tentang ayahnya pada masa pendudukan itu, suatu kali ada laskar yang menahan Raden Moerdani, ayah Benny. Kabarnya Raden Moerdani dipermalukan. Benny amat marah. Tampaknya pasukan laskar itu adalah orang-orang Islam, dan konon sejak itulah Benny dan saudaranya mengembangkan sikap negatif terhadap Islam. Harry Moerdani, saudara kandung Benny, perwira yang bertugas di Siliwangi, kabarnya bahkan pernah mendapat hukuman karena menganiaya seorang tawanan, anggota DI/TII yang ditangkap pasukannya.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Benny remaja, berusia 14 tahun, ikut bergerilya bersama sejumlah anggota Tentara Pelajar. “Kalau tidak dicegah oleh anggota-anggota Tentara Pelajar yang lebih senior, Benny bisa nekat menembak bapaknya,” kata Umar Kayam yang ada di Solo pada masa itu.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Prof. Dr. Umar Kayam pernah bercerita suatu hal kepada saya tentang Benny remaja di Solo pada zaman Revolusi. Menurut Kayam, Benny pernah hampir membunuh ayahnya hanya karena sang ayah bekerja pada perusahaan kereta api yang dikuasai Belanda.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Ini juga lebih kurang sama dengan cerita di balik kebencian ABRI kepada Habibie yang menguasai hampir semua industri strategis, termasuk industri yang sebelumnya berada di bawah penguasaan ABRI. Semua itu merupakan keputusan dan kebijakan Soeharto sendiri. Jadi, permusuhan ABRI kepada Habibie, sebenarnya sama saja duduk soalnya dengan sikap ABRI yang memusuhi Sudharmono dan Harmoko. Sasaran sebenarnya adalah Soeharto. Dan para pembantu Bapak Presiden itu cuma sasaran antara. “Pukul anak sindir menantu,” kata orang Melayu pada zaman dulu.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Karena itu para jenderal tidak tinggal diam. Tidak berhasil mencegah Harmoko menjadi Ketua Umum, sebagian besar dokumen dan alat kerja di kantor pusat Golkar diobrak-abrik dan dihancurkan oleh orang tidak dikenal. “Harmoko harus mulai lagi menyusun daftar nama para kader yang sudah kami kerjakan pada masa kepemimpinan Pak Dharmono,” kata Sarwono.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Soeharto juga tentu tahu bahwa pemikir utama langkah-langkah politik para jenderal waktu itu adalah Moerdani. Hubungan baik Moerdani dengan CSIS juga menimbulkan kecurigaan Soeharto kepada lembaga tersebut sebagai tangki pemikir bagi Benny.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Keputusan Bapak Presiden menjadikan Harmoko sebagai Ketua Umum Golkar tak terbendung oleh ABRI. Apakah Benny atau Edi Sudrajat tidak suka kepada Harmoko? “Tidak usah ditanya. Semua ABRI tidak suka Harmoko,” kata Sumitro.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Tentang kontroversi Sudharmono ini, Benny pernah menjelaskan kepada saya bahwa sebagai Pangkopkamtib, dia menandatangani security clearance bagi Sudharmono untuk jadi Wakil Presiden. “Kami tidak menemukan bukti yang dituduhkan oleh intel-intel tua itu,” kata Moerdani. Menurut perhitungan saya, penandatanganan tersebut terjadi setelah pembicaraan serius Sarwono Kusumaatmadja dengan Benny sebagai yang akan saya kisahkan nanti. Kendati demikian usaha mengganggu pengangkatan Sudharmono menjadi Wapres dari dalam ABRI masih tetap jalan.
veritasvosliberabit
veritasvosliberabitmembuat kutipan2 bulan yang lalu
Untuk mempertahankan kekuasaannya, Pak Harto selalu memastikan agar di antara orangorang di bawahnya selalu ada konflik. Akibatnya, para pembantunya menjadi rival di antara sesama mereka. Semua akhirnya bergantung pada Soeharto. Kalau salah satu pihak menjadi sangat kuat, pihak itu disingkirkan. Inilah penjelasannya mengapa Sumitro, Ali Murtopo, dan Benny Moerdani disingkirkan. Dengan menjadikan Sudharmono sebagai Wapres, sebenarnya mantan Menteri Sekneg itu juga ditendang ke atas.
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)