Gus Dur: Melawan Melalui Lelucon, Syu'bah Asa dan Ulil Abshar-Abdalla
Buku
Syu'bah Asa dan Ulil Abshar-Abdalla

Gus Dur: Melawan Melalui Lelucon

Baca
387 halaman cetak
  • 👍1
Buku tentang Abdurrahman Wahid atau buku yang berisi tulisan buah pikir Abdurrahman Wahid sudah banyak diterbitkan. Begitu Kiai Ciganjur -yang akrab disapa Gus Dur – ini memegang tampuk pimpinan nasional sebagai presiden Republik Indonesia keempat, para penerbit seperti berlomba menerbitkan buku yang ada kaitannya dengan Gus Dur. Tentu saja hal ini menggembirakan, karena masyarakat disuguhi banyak hal tentang profil, pemikiran, dan tingkah laku presiden kita ini.

Buku ini salah satu di antaranya. Yang membedakannya dari buku-buku yang lain adalah buku ini sepenuhnya merupakan buah pikiran Gus Dur yang ditulisnya sebagai kolom di majalah TEMPO. Kami tak menyertakan tulisan Gus Dur di media lain. Ada lebih dari seratus kolom yang ditulis mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama ini. Tulisan itu beragam, mulai masalah keagamaan, profil para kiai, sosial-ekonomi, politik, luar negeri, bahkan juga sampai olahraga. Tulisan itu begitu segar, ringan, mengalir, mencerminkan wawasannya yang luas. Masalah yang berat ditulisnya dengan gaya yang ringan.
Kesan
Tambahkan ke rak
Baca
  • 👍Layak dibaca1
Masuk atau Daftar
Azis muslim
Azis muslimmembagikan kesanbulan lalu
👍Layak dibaca

muhammadfakhrurrijal
muhammadfakhrurrijalmembuat kutipan3 bulan yang lalu
Dan nanti akan kita lihat, Gus Dur sendiri, paling tidak sebagai aktivis, kalau bukan juga sebagai kolumnis, tidak bisa jauh dari kekuasaan. Ia selalu bergerak di dekat-dekat situ, meskipun oleh pemerintah waktu itu tidak dibolehkan menjadi pemain. Ini bisa dibandingkan dengan para intelektual lain mana pun yang umumnya, memang, bermental swasta. Kalaupun hidupnya berhubungan dengan pemerintah, ya paling-paling makan upah, sebagai pegawai atau dosen. Gus Dur tidak pernah makan upah. Kolom-kolomnya sendiri, sebagian, sudah mencerminkan antusiasmenya terhadap politik dan masalah kenegaraan. Tidak hanya Gus Dur yang menulis soal luar negeri. Tetapi, rasa-rasanya, hanya dia yang datang dengan ide lebih dahulu ( dan itulah yang membuatnya menjelaskan apa yang sedang terjadi , dan bukan sebaliknya) dan menulis sambil
Aslih Fahmi
Aslih Fahmimembuat kutipan3 bulan yang lalu
Umumnya, para kiai dan santri di pesantren itu, meskipun tiap hari bergelut dengan kitab-kitab fiqh, dengan ajaran-ajaran tertulis, mereka kurang suka “dikuasai” oleh skripturalisme. Kalau mereka terbentur pada semacam dilema: apakah mendahulukan kepentingan konkret kehidupan atau teks asli dalam kitab, maka mereka biasanya dengan segala cara berusaha mencari alasan untuk lolos dari “cengkeraman” teks. Inilah yang dalam tradisi pesantren disebut dengan “hila”, atau siasat untuk lolos dari teks. Dalam beberapa hal, tampak juga “insting” semacam ini pada Gus Dur. Yang penting pada “hilah” bukanlah erudisi atau kedalaman dan kecanggihan sebuah argumen, tetapi adalah kebutuhan praktis untuk memecahkan masalah.
randibayu94
randibayu94membuat kutipan3 bulan yang lalu
Karena wawasannya pula ia dipilih menjadi salah satu ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tentu, jabatannya di NU memperkuat kansnya sebagai ketua di DKJ,
Rak Rak An, b1886547516
b1886547516
Rak Rak An
  • 28
  • 3
Buku untuk perpus, Simon Kemper
Simon Kemper
Buku untuk perpus
  • 51
  • 2
Filsafat, Elsa Tania
Elsa Tania
Filsafat
  • 4
  • 2
gus dur, Alfan Alfan
Alfan Alfan
gus dur
  • 1
  • 2
bookmate icon
Satu harga. Bertumpuk-tumpuk buku
Jangan cuma membeli satu buku, beli perpustakaan beserta isinya… dengan harga yang sama.
fb2epub
Seret dan letakkan file Anda (maksimal 5 sekaligus)